makalah

DAFTAR  ISI

Daftar  Isi…………………………………………………………………………………………………… 2

Pendahuluan ………………………………………………………………………………………………  3

Rumusan masalah dan kajian serta tujuan makalah……………………………………. 3
DASAR SUMBER HUKUM ISLAM ………………………………………………………….  4
1. AL-QUR’AN (sumber hukum Al Qur’an)…………………………………………………. 4
1) Pengertian Al-Quran.…………………………………………………………………………… 4
2) Kandungan Al-Quran.………………………………………………………………………….. 4
3) Kedudukan Al-Quran.………………………………………………………………………….. 5
4) Ayat Al-Quran…………………………………………………………………………………….. 5
2.HADITS DAN SUNNAH RASUL……………………………………………………………….. 5
3. IJMA’…………………………………………………………………………………………………….. 5
Syarat Mujtahid…………………………………………………………………………………………. 5
Kehujjahan Ijma’……………………………………………………………………………………….. 8
4.QIYAS.……………………………………………………………………………………………………. 8
Kehujjahan Qiyas……………………………………………………………………………………….. 9
Rukun Qiyas………………………………………………………………………………………………. 11

Kesimpulan………………………………………………………………………….. 12     

Daftar  Pustaka…………………………………………………………………….. 12

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Latar belakang

Sumber Islam adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan dasar aturanatau pedoman agam Islam. Sumber hokum Islam yang utama adalah Al-Qurandan Al Hadits sebagai mana hadits Rosulullah saw : “Aku timggikan duaperkara yag jika kamu berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesa selamanya yaitu Al-Quran dan Al Hadits atau As Sunnah” (H.R. Baihaqi).
Dalam Al-Quranbanyak yang menyebutkan tentang akal, maka paraulama menjadikan akal sebagai sumber hukum yang ketiga di dalam ajaranIslam. Hasil dari akal inilah yaitu rayu yang pelaksanaannya adalah melaluiijtihad.
Untuk memahami sumber-sumber hukum Islam di atas akandijabarkan secara terinci mulai dari Al-Quran, Al Hadits atau As Sunnah danIjtihat serta bentuk-bentuknya.
Rumusan masalah dan kajian serta tujuan makalah
1.      apakah baca alqur’an itu ibadah…?
2.      apa kandungan alqur’an ?
  1. Menyebutkan pengertian, kedudukan dan fungsi Al-Quran, AlHadits dan Ijtihat sebagai sumber hukum Islam.
  2. Menjelaskan pengertian, kedudukan dan fungsi hukum taklifi dalam hukum Islam.
  3. Menjelaskan pengertian dan hikmah ibadah.
  4. Menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari.
  5. mengetahui dasar hukum
DASAR SUMBER HUKUM ISLAM
1. AL-QUR’AN (sumber hukum Al Qur’an)
1) Pengertian Al-Quran.
Secara bahasa Al-Quran berarti bacaan (qiraah). Dalam hal ini Allah
swt berfirman : yang artinya : “Serungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila kami Telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. Al-Qiyamah (75) : 17-18)
Adapun pengertian Al-Quran menurut istilah, yaitu Firman Allah swt,yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan lisan Arab. Merupakan mukjijat dan telah ditulis dalam beberapa musaf, dimana samapai kepada kita dengan jalur mutawatir. Membacanya merupakan sebuah ibadah diawali dengan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengansurat An-Nas.
2) Kandungan Al-Quran.
Isi pokok kandungan Al-Quran dikelompokkan menjadi 5 perkara, yaitu :
a) Tauhid
Tauhid merupakan hukum tentang keyakinan. Dalam Al-Quranmengandung tuntunan yang mengajarkan keimanan kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat serta beriman kepada Qada dan Qadar.
b) Ibadah
Hukum ibadah yang terkandung dalam Al-Quran antara lain ibadah shalat, puasa, zakat dan haji. Ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Ibadah adalah bukti bahwa manusia bersyukur atas anugerah yang diberikan Allah kepadanya. Dengan ibadah akan memupuk rasa iman kepada Allah swt.
c)Al Wadu Wal Waid
Artinya adalah janji dan ancaman. Melalui Al-Quran Allah telah berjanji kepada manusia yang beriman kepada-Nya dan mengikuti semua petunjuk Al-Quran akan memberikan pahala kebahagiaan didunia dan akhirat. Dan sebaliknya Allah swt mengancam manusia yang mengingkari dan melanggar ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Al-Quran dengan azab dan siksa yang pedih.
d)Petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan
Dalam Al-Quran mengandung petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan manusia dalam interaksinya untuk meraih kebahagiaan di dunia danakhirat.
e)Sejarah Umat Terdahulu
Al-Quran banyak mengisahkan sejarah kehidupan Nabi dan Rasul dalam berdakwah, menegakkan agama Islam di tengah umatnya yang masih jahiliyah. Selain itu Al-Quran juga mengisahkan sejarah orang-orang saleh seperti Ashabul Kahfi, Lukman Hakim, sahabat-sahabat Rasulullah dan sebagainya.
3) Kedudukan Al-Quran.
Al-Quran merupakan sumber hukum utama dalam Islam. Semua tuntutan dan larangan dalam Al-Quran harus ditatati oleh semua muslimdan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Firman Allah swt :
Artinya: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. ( QS. Az-Zukhruf (43) : 43).
Kandungan Al-Quran mencakup semua aspek kebutuhan manusia yangada di bumi ini, maka tidak satupun yang tertinggal. Al-Quran telahmemberikn dasar-dasar hukum. Hal ini terdapat dalam firman Allah swt :
Artinya : “Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam kitab. ( QS. Al-Anam (6) : 38)
4) Ayat Al-Quran
Ayat menurut bahasa berarti tanda kekuasaan Allah. Ayat menurut istilah merupakan bagian dari Al-Quran yang terdiri dari beberapa katadan masing-masing ayat dipisahkan dengan ayat lain menggunakantanda pisah. Ayat Al-Quran ada yang panjang dan ada yang pendek.Ayat yang panjang terdapat dalam Al-Baqarah 282 dan ayat yang terpendek dan sebagainya.
Macam-macam ayat Al-Quran ditinjau dari masa turunnya ada 2 macam, yaitu ayatul Makkiyah dan ayatul Madaniyah.
a)Ayatul Makkiyah yaitu ayat Al-Quran yang diturunkan di kota Mekah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ayatul Makiyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut : ayat-ayat pendek berisi tentang aqidah akhlak, berisi janji dan ancaman
Contoh : surat dalam juz 30 (juz Amma )
b) Ayatul Madaniyah yaitu ayat Al-Quran yang diturunkan di Madinah, setelah Nabi hijrah. Ayatul Madaniyah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
ayat-ayat panjang berisi tentang hukum kemasyarakatan
Contoh : surat Al-Baqarah
2.HADITS DAN SUNNAH RASUL
Hadits menurut bahasa artinya kabar atau baru. Adapun menurut istilah adalah kegiatan/ perbuatan, ucapan atau ketetapan dari Nabi Muhammad saw. Sebagian ulama berpendapat bahwa antara hadits dan sunnah mempunyai pengertian yang sama. Namun sebagian mempunyai pendapat bahwa sunnah hanya perilaku Nabi sedangkan hadits yaitu perkataan Nabi yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau lebih dan hanya merekalah yang mengetahuinya serta tidak menjadi sandaran atau malan umum. Semua perbuatan Nabi saw adalah atas bimbingan Allah swt. Firman Allah swt :
Artinya :”Seandainya ia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al-Haqqah (69) 44-46)
3. IJMA’
Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan أجمع فلان على الأمر berarti berupaya di atasnya.
Sebagaimana firman Allah Swt : yang artinya
“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)
Pengertian kedua, berarti kesepakatan. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang. Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul SAW atas hukum syara. Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’ .
‘Kesepakatan’ itu dapat dikelompokan menjadi empat hal:
1. Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang mujtahid apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena ‘kesepakatan’ dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.
2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara’ dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara’ hanya para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid ahli Syiah, maka secara syara’ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma’. Karena ijma’ tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.
3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan.
4. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kespekatan yang ‘banyak’ secara ijma’ sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syar’i yang pasti dan mengikat.
Syarat Mujtahid
Mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat:
Syarat pertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:
·         Memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an.,
·         Memiliki pengetahuan tentang Sunnah.,
·         Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’ sebelumnya.
Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fikih.
Syarat ketiga, Menguasai ilmu bahasa
Selain itu, al-Syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Oleh karena itu seorang mujtahid dituntut untuk memahami maqasid al-Syariah. Menurut Syatibi, seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal: pertama, ia harus mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna, kedua ia harus memiliki kemampuan menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah
Kehujjahan Ijma’
Apabila rukun ijma’ yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin walau dengan perbedaan negeri, jenis dan kelompok mereka yang diketahui hukumnya. Perihal ini, nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun individu.
Selanjutnya mereka mensepakati masalah hukum tersebut, kemudian hukum itu disepakati menjadi aturan syar’i yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. Lebih lanjut, para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang sudah disepakati) garapan ijtihad, karena hukumnya sudah ditetapkan secara ijma’ dengan hukum syar’i yang qath’i dan tidak dapat dihapus (dinasakh).
4.QIYAS
Qiyas menurut ulama ushul adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. Mereka juga membuat definisi lain, Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum.
Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula.
Umpamanya hukum meminum khamar, nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah Swt:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs.5:90)
Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram.
Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal, maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok:
1.      Kelompok jumhur, mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an, hadits, pendapat shahabt maupun ijma ulama.
2.      Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah, mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. Sebaliknya, mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.
3.      Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas, yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu, kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhrih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits.
Kehujjahan Qiyas
Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i
Diantara ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah : yang artinya
“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Qs.59:2)
Dari ayat di atas bahwasanya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk ‘mengambil pelajaran’, kata I’tibar di sini berarti melewati, melampaui, memindahkan sesuatu kepada yang lainnya. Demikian pula arti qiyas yaitu melampaui suatu hukum dari pokok kepada cabang maka menjadi (hukum) yang diperintahkan. Hal yang diperintahkan ini mesti diamalkan. Karena dua kata tadi ‘i’tibar dan qiyas’ memiliki pengertian melewati dan melampaui.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs.4:59)
Ayat di atas menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ (dalam masalah khilafiyah), tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan, apa yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat diperoleh dengan mencari illat hukum, yang dinamakan qiyas.
Sementara diantara dalil sunnah mengenai qiyas ini berdasar pada hadits Muadz ibn Jabal, yakni ketetapan hukum yang dilakukan oleh Muadz ketika ditanya oleh Rasulullah Saw, diantaranya ijtihad yang mencakup di dalamnya qiyas, karena qiyas merupakan salah satu macam ijtihad.
Sedangkan dalil yang ketiga mengenai qiyas adalah ijma’. Bahwasanya para shahabat Nabi Saw sering kali mengungkapkan kata ‘qiyas’. Qiyas ini diamalkan tanpa seorang shahabat pun yang mengingkarinya. Di samping itu, perbuatan mereka secara ijma’ menunjukkan bahwa qiyas merupakan hujjah dan waji b diamalkan.
Umpamanya, bahwa Abu Bakar ra suatu kali ditanya tentang ‘kalâlah’ kemudian ia berkata: “Saya katakan (pengertian) ‘kalâlah’ dengan pendapat saya, jika (pendapat saya) benar maka dari Allah, jika salah maka dari syetan. Yang dimaksud dengan ‘kalâlah’ adalah tidak memiliki seorang bapak maupun anak”. Pendapat ini disebut dengan qiyas. Karena arti kalâlah sebenarnya pinggiran di jalan, kemudian (dianalogikan) tidak memiliki bapak dan anak.
Dalil yang keempat adalah dalil rasional. Pertama, bahwasanya Allah Swt mensyariatkan hukum tak lain adalah untuk kemaslahatan. Kemaslahatan manusia merupakan tujuan yang dimaksud dalam menciptakan hukum. Kedua, bahwa nash baik Al Qur’an maupun hadits jumlahnya terbatas dan final. Tetapi, permasalahan manusia lainnya tidak terbatas dan tidak pernah selesai. Mustahil jika nash-nash tadi saja yang menjadi sumber hukum syara’. Karenanya qiyas merupakan sumber hukum syara’ yang tetap berjalan dengan munculnya permasalahan-permasalahan yang baru. Yang kemudian qiyas menyingkap hukum syara’ dengan apa yang terjadi yang tentunya sesuai dengan syariat dan maslahah.
Rukun Qiyas
Qiyas memiliki rukun yang terdiri dari empat hal:
1.      Asal (pokok), yaitu apa yang terdapat dalam hukum nashnya. Disebut dengan al-maqis alaihi.
2.      Fara’ (cabang), yaitu sesuatu yang belum terdapat nash hukumnya, disebut pula al-maqîs.
3.      Hukm al-asal, yaitu hukum syar’i yang terdapat dalam dalam nash dalam hukum asalnya. Yang kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’.
4.      Illat, adalah sifat yang didasarkan atas hukum asal atau dasar qiyas yang dibangun atasnya.
Kesimpulan
Pada intinya semua hukum itu datangnya dari allah dan diturunkan  dalam bentuk alkitab Al Qur ‘an yang menjelaskan secara global dan di terangkan oleh hadist nabi di perinci serta di terangkan secara detail oleh ulama dalam ijtihadnya
Dan hukum yang belum ada dalam Al Qur ‘an di Qiaskan oleh ulama sesuai anjutran alqur an menjadi hukum qias setelah ijma. Jadi aspek hukum islam itu ada 4
1.      hukum Al Qur ‘an
2.      hadist
3.      ijma
4.      qias
Dan tiap hukum sudah di jelaskan oleh ulama dalam berbagai kitab karangannya
DAFTAR PUSTAKA
Lembar kerja siswa Kharisma, CV. HAKA MJ
Lembar kerja siswa Mentari. Jakarta : CV. GRAHA PUSTAKA
Lembar kerja siswa Surakarta : CITRA PUSTAKA
Lembar kerja siswa Simpati SMA PAI X
Lembar kerja siswa Mastear PAI SMK X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *