Romo marsel yang memberikan cahaya pada desa kecil di NTT


Beberapa kota besar yang memiliki masyarakat yang banyak pasti tidak akan tahu dan tidak akan
merasakan rasanya tinggal di suatu pemukiman yang tidak memiliki pencahayaan atau penerangan
seperti pada tempat – tempat yang cukup besar di beberapa wilayah di Indonesia.
Warga desa bea muring di nusa tenggara timur tidak dapat menikmati apa yang sudah bisa dinikmati di
kota- kota besar di Indonesia, seperti barang elektronik. Jangankan barang elektronik canggih yang
memiliki daya yang cukup tinggi atau menginginkan adanya koneksi internet. Untuk mendapatkan
penerangan pun mereka masih sering kesulitan.
Room marselus mendatangi desa bea muring di nusa tenggara timur sejak juni tahun 2011 silam, ia
dipercayai untuk menjadi pastor di wilayah paroki santo damian di desa bea muring.
Dia mengatakan pada saat berada di acara convesvacation di desa bea muring. Saat tiba di tempat
tersebut dia sangat terkejut dengan fasilitas nya yang sangat minim, terutama pada fasilitas penerangan
nya. Mereka memanfaatkan generator yang sudah ada dan biasanya penerangan hanya ada sekitar 4
jam pada sore hari pukul 18.00 sampai 22.00 kemudian listrik akan menjadi padam.
selain penerangan yang minim karena hanya dibantu oleh genset yang ada, masyarakat juga harus
menghirup polisi yang ditimbulkan oleh genset baik polusi udara maupun polisi suara karena suara yang
keluar dari genset sangatlah bising. Terlebih lagi genset terkadang mendadak tidak dapat dinyalakan
karena terlalu sering dipakai sehingga besar kemungkina jika genset bisa rusak kapan saja.
Selain itu biaya yang diperlukan juga sangat mahal sekali untuk penerangan setiap harinya, dalam
semalam biaya pengeluaran untuk penerangan mereka harus mengeluarkan budget sekitar 30 ribu
untuk satu rumah, apabila di totalkan dalam sebulam mereka memerlukan uang sekitar 900 ribu rupiah
untuk penerangan yang tidak lama setiap harinya.
Setelah itu romo marcel mengetahui bahwa disini memiliki cukup air yag dapat digunakan sebagai
sumber tenaga penerangan. Ia pun bertekad membangun listrik tenaga air dan pada waktu lima bulam
ia mampu mengumpulkan informasi, keraguan dari masyarakat tidak membunuh harapan romo marcel
dan terus berusaha. Sampai pada ahirnya masyarakat turut membantu romo marsel membangun listrik
tenaga air tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *